BENTURAN PERADABAN, APA ITU??

 Pendahuluan

Dengan adanya tulisan ini, semoga kita dapat sadar, bahwa kita sedang dalam perang pemikiran, antara peradaban Islam dengan Peradaban barat.
Sebelum kita membahas tentang benturan peradaban, alangkah baiknya kita memahami apa itu yang disebut peradaban. Peradaban (hadharah) adalah sekumpulan konsep (mafahim) tentang kehidupan. Peradaban bisa berupa peradaban spiritual ilahiyah (diniyah ilahiyyah) atau peradaban buatan manusia (wadl’iyyah basyariyyah). Peradaban spiritual ilahiyah lahir dari sebuah aqidah (dasar ideologi), seperti peradaban Islam yang lahir dari Aqidah Islamiyah. Sedangkan peradaban buatan manusia bisa lahir dari sebuah aqidah, seperti peradaban kapitalisme Barat, yang merupakan sekumpulan konsep tentang kehidupan yang muncul dari aqidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan).



Benturan Peradaban

Benturan atau perang (shira’) antar agama dan peradaban telah terjadi sejak zaman dahulu, dan yang menjadi fokus pembahasan kita adalah benturan antara Islam dengan agama dan peradaban lain. Sesungguhnya, Islam adalah diin (agama) perjuangan sejak saat Rasulullah Muhammad saw. Diperintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan hingga akhir zaman nanti. Ketika Rasulullah saw. Diperintahkan untuk menyampaikan risalah yang dibawanya secara terbuka, mulailah terjadi pertarungan pemikiran antara konsep-konsep Islam dengan konsep-konsep kufur. Pertarungan pemikiran ini terus berlanjut hingga masa sekarang ini. Pertarungan pemikiran ini tidak akan pernah berhenti dan memang tidak boleh berhenti, sekalipun kemudian muncul berbagai bentuk pertarungan lainnya. Pertarungan pemikiran di lakukan dengan jalan menentang pemikiran pemikiran-pemikiran kufur secara tajam, lugas, dan tegas. Pertarungan pemikiran ini sama sekali tidak bertentangan dengan firman Allah,










“Serulah mereka kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS. an-Nahl [16]: 125).

Sepeninggal Rasulullah saw., kaum Muslim meneruskan perjuangan melawan agama dan peradaban kufur dalam bentuk pertarungan pemikiran maupun pertempuran fisik –yang akan terus berlanjut– hingga Islam tersebar luas melintas batas-batas negeri, Kemudian mulailah terjadi invasi budaya dan misionaris ke dalam tubuh Negara Islam, hingga pada puncaknya peradaban Barat berhasil meruntuhkan Negara Islam, mengoyak negeri-negeri muslim, dan memecah belah kesatuan jamaah kaum Muslim. Serangan peradaban kapitalis Barat tidak berhenti sampai di sini. Mereka terus menerus menyebarluaskan konsep-konsepnya tentang nasionalisme, patriotisme, demokrasi, hak asasi manusia dan liberalisme, hukum buatan manusia, dan merekayasa tapal batas imajiner antar kaum Muslim. Mereka juga mengangkat para penguasa korup di negara-negara lemah tersebut sebagai antek-antek mereka, untuk menyebarluaskan pengaruh dan ide-ide kufur mereka, melindungi kepentingan mereka, mempertahankan sekat-sekat buatan mereka, menyesatkan kaum Muslim dari jalan Allah, serta menentang setiap orang yang tulus ikhlas berusaha membebaskan diri dari hegemoni mereka. Mereka juga dibantu oleh agen-agen yang terdiri dari para intelektual, yang senantiasa menyerukan dan membela pemikiranpemikiran Barat dengan semangat, menentang konsep peradaban Islam, serta dengan membabi buta berpihak kepada musuh umat. Para serdadu Salib dan agen-agen mereka di kalangan tokoh kaum Musl im juga mengendalikan berbagai media massa dan sarana pendidikan, sehingga mereka sesat dan menyesatkan. Serangan pemikiran ini tidak berhenti di sini. Propaganda kepada peradaban Barat seperti liberalisme, demokrasi, pluralisme, masyarakat madani (civil society), negara insitusi (state of institutions), hak asasi manusia (HAM), hak-hak perempuan, ikatan patriotisme, dialog antara agama, dan sebagainya, terus berjalan dengan lancar. Dengan demikian, sungguh hal ini merupakan suatu pertarungan pemikiran yang sangat keras antara dua peradaban: Islam dan kapitalisme. Benturan ini begitu jelas hingga tidak ada lagi bukti yang perlu diungkapkan, karena bisa kita rasakan dan saksikan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun para intelektual dan tokoh-tokoh kapitalis selalu berusaha menyembunyikannya melalui berbagai distorsi dan penyesatan. Sekedar mengutip beberapa contoh, mantan Presiden AS Nixon pernah menyatakan dalam buku The Favorable Oppor tunity bahwa, “Isolasi ki ta sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan agama kita, yang menyerukan penyebarluasan kebaikan ke seluruh pelosok bumi.”
Nixon juga menulis dalam bukunya Victory Without War, “Revolusi ideologi Islam merupakan suatu reaksi melawan modernisasi. Komunisme berjanji memutar jarum jam sejarah ke depan, sedangkan fundamentalisme Islam ingin memutar ke belakang . . . Revolusi komunis dan Islam merupakan musuh ideologis yang mempunyai tujuan sama, yaitu ingin meraih kekuasaan dengan segala cara dengan maksud untukmenerapkan pemerintahan diktator berdasarkan citacita ideal yang tidak lagi dapat dibiarkan.” Kita juga mendengar pernyataan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, “Kita harus menyadari keunggulan peradaban kita. Masyarakat Timur masih berorientasi pada peradaban Barat dan orientasi ini akan terus meningkat. Hal ini pernah terjadi pada masyarakat komunis, demikian pula sejumlah bagian dunia Islam.” Teri Larson, koordinator perjanjian damai Oslo,menyambut gembira kecenderungan kaum Muslim Palestina untuk melakukan normalisasi dengan masyarakat Barat. Salah seorang anggota delegasi Yahudi dalam perjanjian Oslo dan Wye River, Ori Speer, menjelaskan dalam bukunya, The Course (Al Masirah), “Kerudung di kepala para muslimah mulai menghilang dan gaun mereka pun semakin diperpendek; hal ini disambut gembira oleh Larson, yang menganggapnya sebagai pertanda keinginan kaum Muslim untuk melakukan normalisasi dengan Barat.” (Padahal tidak ada wanita yang berani melakukan perbuatan tersebut pada masa-masa awal Intifada, sebelum berlangsungnya perjanjian Oslo).
Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright mengatakan, “Kami diserang disebabkan karena identitas kami. Kami menganut globalisasi dan mempertahankan demokrasi, liberalisme, dan masyarakat yang terbuka. Inilah nilai-nilai dasar Amerika yang tidak bisa ditawar lagi.” (Majalah al-Quds, yang mengutip kata-kata Nathan Charles-Washington). Paul Kennedy, seorang profesor sejarah Universitas Yale AS mengatakan, “Prediksi bahwa serangan para teroris tidak akan berhenti merupakan prediksi yang sulit dihindari. Kami belum pernah memperoleh kesuksesan besar dalam hal mengantisipasi serangan seperti ini. Jin ini telah keluar dari leher botol dengan membawa semangat balas dendam; dan bom mobil telah berganti menjadi bom pesawat terbang.” (Majalah al-Quds, 22/9/2001).
Pernyataan-pernyataan di atas –dan berbagai pernyataan lain yang serupa– secara ekspl isit mengungkapkan permusuhan mereka terhadap Islam. Pernyataan mereka juga menunjukkan bahwa mereka semua –bersama dengan peradaban kapitalismenya– telah menyerang peradaban Islam dengan sangat keras. 
Keberadaan Khilafah yang mengikuti metoda kenabian (Khilafah rasyidah ‘ala minhâjin nubuwwah) merupakan landasan kekuatan dalam benturan antara Islam dan kekufuran. Alangkah sangat naif dan piciknya bila kita hendak melawan berbagai serangan mereka hanya dengan dakwah lewat bermacam media, menulis buku, dan kontak-kontak pribadi semata. Sementara pada saat yang sama Islam belum diterapkan secara kaaffah, sedang kaum Muslim masih berada dalam keadaan yang lemah, terhina, terbelakang, dan terpecah-belah. Dengan Daulah Khilafah Islamiyah, maka akan terwujud keadilan, kehormatan,  kebahagiaan, nilai-nilai kemanusiaan, dan segala bentuk kebaikan lainnya; dan pada saatnya nanti, kaum Muslim dan kaum Kafir akan menyaksikan hal tersebut. Keberadaan Khilafah akan menggantikan fungsi jutaan buku dan kontak-kontak pribadi serta ribuan media dakwah. Terlebih lagi bila keberadaan Khilafah tersebut dilengkapi dengan semua yang disebutkan itu; maka Anda akan segera melihat, betapa orang akan berbondong-bondong memeluk diin Allah ini.

Referensi : 
Buku Benturan Peradaban : Judul Asli: Hatmiyyah Shira’ al-Hadharat
ISBN : 979-97293-3-5 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mendidik Anak

Perjalanan Menuju Hidayah