Potensi Kehidupan Manusia


   
       Menjadi manusia adalah nikmat yang luar biasa karena apa?. Manusia adalah makhluk yang sempurna dalam penciptaanya, ia memiliki hidayah sejak lahir, yaitu akal. Dengan adanya akal, manusia mampu berfikir untuk menentukan pilihan, menentukan baik buruk pilihan yang diambil didunia. Dengan adanya hal itu, maka kelak manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas pilihannya. Berbeda dengan hewan yang tidak memiliki akal, jadi hewan hanya sekedar hidup untuk memenuhi kebutuhannya tanpa bisa memilih baik atau buruk untuk dirinya. Maka hewan tidak dimintai pertanggung jawaban. Jadi bersyukurlah menjadi manusia J

     Tidak cukup itu, Allah menciptakan manusia beserta perangkat yang lainnya, yaitu potensi kehidupan. Manusia alaminya setelah terlahir kedunia ia membawa potensi kehidupan. Potensi kehidupan terdiri dari kebutuhan hidup (Bahasa arab: hajatul ‘udhawiyyah)  dan naluri (Bahasa arab: Gharizah). Apa itu?? | perhatikan dan cek!! J
1. Kebutuhan Hidup (Bahasa arab: hajatul ‘udhawiyyah) 
Hajatul ‘udhawiyyah adalah kebutuhan yang harus dipenuhi, jika tidak terpenuhi dalam jangka waktu tertentu akan mengancam jiwa kita. (Serius). Yang termasuk hajatul ‘udhawiyyah (kebutuhan hidup) adalah seperti ketika lapar cara memenuhinya dengan  makan, ketika haus cara memenuhinya dengan minum, ketika kebelet cara memenuhinya ke belakang (pasti sudah tau), dan lain sebagainya.
2. Naluri (Bahasa arab: Gharizah).
Gharizah adalah kebutuhan yang tidak terpenuhi (sekarang) tidak apa-apa, hanya menimbulkan kegelisahan (dibaca: Galau), tidak mengancam diri jiwa kita.
Gharizah terbagi menjadi 3, antara lain: Gharizah tadayyun (naluri mensucikan sesuatu), gharizah na’u (naluri melestarikan jenis) dan gharizah baqa’ (naluri mempertahankan diri).
  • Gharizah tadayyun (naluri yang mensucikan diri) maksudnya secara fitrah kita memiliki kecendrungan untuk menyembah sesuatu.
  • Gharizah na’u (naluri melestarikan jenis) maksudnya fitrahnya manusia memiliki kecendrungan suka dengan lawan jenis, saying kepada kedua orang tua, dll. Seperti laki-laki suka dengan perempuan, rasa saying kepada kedua orang tua, dll.
  • Gharizah baqa’ (naluri mempertahankan diri) maksudnya fitrahnya manusia memiliki kecendrungan ke-akuan, ingin di akui oleh lingkungan, ‘ini’ lho aku. Seperti ingin mendapatkan juara dikelas, marah apabila di ganggu, takut dengan harimau, dll.
Ketika sudah tahu, terus apa hubungannya dengan akal?

Kita tahu jika kita ‘manusia memilik anugrah, hidayah akal dan potensi kehidupan yang diberikan oleh Allah ketika kita sejak lahir didunia. Dengan akal maka kita mampu membedakan mana yang baik dan tidak, berbeda dengan hewan yang memang hewan tidak memiliki akal. Akal manusia berperan untuk berfikir dalam memenuhi potensi kehidupan yang fitrahnya manusia memilikinya sejak dia lahir kedunia, dengan akal maka manusia sangat berbeda dengan hewan, yaitu bagaimana manusia menggunkan akalnya untuk berfikir dalam pemenuhan potensi kehidupannya. Seperti ini, ketika kita lapar maka kita akan makan, diatas meja ada makanan entah itu miliknya siapa. Kemudian seharusnya kita berfikir ‘makanan di meja milik siapa? Jika aku menginginkannya maka aku harus meminta izin’. Dengan akal manusia mampu berfikir mana yang baik dan buruk  untuk dipilihnya, dll. pada pemenuhan gharizah-pun (naluri), sebagai manusia yang memiliki akal akan berfikir dengan cara yang baik untuk memenuhinya. Seperti ini, dalam pemenuhan gharizah tadayyun, kita sebagai manusia akan berfikir ‘yang pantas disembah itu siapa, jika bukan Allah subhanallahu wata’ala’ dalam surat al-jaatsiyat [45]: 3-4 yang artinya 
Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini”. 
Dalam pemenuhan gharizah na’u, kita sebagai manusia akan berfikir ‘jika saya suka dengan dia (lawan jenis), hanya dengan menikah maka terpenuhi, bukan dengan pacaran yang dilarang sama Allah’. Dalam pemenuhan gharizah baqa’, kita sebagai manusia akan berfikir untuk memenuhinya sesuai syariat Allah ‘ jika saya marah apa bila di nasehati, apakah Allah boleh’. Masih banyak lagi cara untuk memenuhi potensi kehidupan kita yang ada.

Ketika kita sudah tahu bagaimana anugrah Allah yang dimiliki manusia dan cara memenuhinya. Maka dapat dipastikan bahwa dengan akal, kita berbeda dengan hewan untuk memenuhi kebutuhan hidupanya, tidak mau kan jika disamakan dengan hewan karena kita tidak menggunakan akal untu berfikir dalam memenuhi potensi kehidupan kita. Aku sih gak mau!! Bahkan ketika kita tidak menggunakan akal yang ditundukkan dengan aturan Allah dengan syariat Allah maka  manusia akan lebih hina dibanding binatang ternak. Dalam surat al-A’raf ayat 179 yang artinya 
“ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” 

Jadi apa-pun yang kita pilih dalam kehidupan ini untuk memnuhi potensi kehidupan yang alaminya sudah ada sejak lahir, kita fikirkan baik-baik dengan cara berlandaskan al-Qur’an dan Hadist dan sumber hukum islam yang lainnya. Agar kita hidup bukan hanya sekedar hidup. Karena manusia makhluk yang berakal maka dia menjadi mulia jika mampu menundukkan akalnya kepada aturan Allah subhanallu wata’ala ^^.

Meminjam istilahnya Buya Hamka “Kalau hidup sekedar hidup, kera dihutan juga hidup, jika kerja hanya sekedar bekerja kerbau di sawah juga bekerja”. Nah, semoga kita mampu menjadikan hidup bukan hanya sekedar hidup, karena ada aturan Allah untuk ditaati termasuk dalam pemenuhan potensi kehidupan manusia. Wallahu ‘alam -shalihah Bersama 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mendidik Anak

Perjalanan Menuju Hidayah